Connect with us

    NEWS

    Berani Berselisih dengan PDI Perjuangan, Ganjar Dinilai Independen

    Published

    on

    Ganjar Independen

    IndoJurnal – Pengamat politik dari Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Saidiman Ahmad menyatakan bakal calon presiden Ganjar Pranowo cukup independen dan bukan pemimpin boneka.

    “Ganjar cukup independen. Tidak terlihat dia jadi boneka siapa pun. Bahkan sebelumnya, partainya sendiri terlihat agak kritis pada Ganjar,” katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (19/9/2023).

    Hal itu, kata dia, terlihat dari rekam jejak Ganjar selama menjadi gubernur di Jawa Tengah dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

    Pernyataan Saidiman bisa dirunut dari jejak perjalanan Ganjar. Sebagai gubernur, Ganjar beberapa kali terlibat perang statemen dengan Ketua DPD PDI Perjuangan Jateng maupun Ketua DPRD Jateng dari PDI Perjuangan.

    Ketua DPD PDIP Jateng Bambang Wuryanto bahkan pernah menyebutkan kata “kemajon” dan “keminter” untuk menunjukkan Ganjar sering melangkahi partai.

    Advertisement

    Disamping itu, katanya, istilah petugas partai perlu diluruskan. Istilah tersebut sudah dipakai PDI Perjuangan untuk menyebut kader-kadernya yang menduduki jabatan publik.

    “Joko Widodo juga petugas partai. Dan Jokowi tidak terlihat dikendalikan Megawati,” katanya.

    Menurut Saidiman, penggunaan istilah petugas partai lebih sebagai cara PDIP untuk mengingatkan kadernya agar tidak melupakan garis ideologi partai ketika menjabat.

    “Istilah petugas partai digunakan agar para kader tidak keluar dari benteng ideologis partai ketika menjalankan pemerintahan,” katanya.

    Sebelumnya, Ganjar Pranowo ditanya tentang petugas partai oleh mahasiswa saat memberikan kuliah kebangsaan di Universitas Indonesia. Ganjar menjawab selama 10 tahun jadi gubernur dirinya hanya melayani rakyat, bukan mengedepankan kepentingan partai.

    Advertisement

    “Kalau Anda riset tentang saya, apa yang saya lakukan apakah saya hanya berpihak pada partai saya, mungkin nyaris Anda tidak menemukan,” kata Ganjar kepada Naufal, Mahasiswa Ilmu Politik FISIP UI, Senin (18/9/2023).

    Ganjar Dinilai Bisa Meraup Suara Gen Z

    Politikus Partai Hanura Inas Nasrullah mengatakan bakal capres Ganjar Pranowo bisa meraup banyak suara Generasi Z (Gen Z) karena sering berkunjung ke kampus dan berinteraksi langsung dengan mahasiswa untuk menyampaikan gagasan.

    “Interaksi para mahasiswa dengan generasinya akan sangat cair sehingga gagasan yang disampaikan melalui mahasiswa akan tersampaikan kepada generasi seusianya,” kata Inas dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (19/9/2023).

    Menurut Inas, kampus merupakan salah satu ladang suara bagi bacapres karena di sini jumlah Gen Z sangat banyak.

    Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut jumlah mahasiswa di Indonesia pada 2023 mencapai 7,8 juta orang. Sedangkan jumlah Gen Z di Indonesia di tahun yang sama ada 60 juta orang.

    “Kampus adalah ladang suara baru yakni kaum Gen Z yang jumlahnya cukup banyak, menurut Badan Pusat Statistik, ” ujar Inas.

    Advertisement

    Berdasarkan Pasal 280 ayat 1 huruf H Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu melarang penggunaan fasilitas pemerintah, tempat ibadah, dan tempat pendidikan untuk kampanye politik.

    Namun, dalam penjelasan UU tersebut menyebutkan fasilitas pemerintah, tempat ibadah, dan tempat pendidikan bisa untuk kegiatan politik jika peserta pemilu hadir tanpa atribut kampanye.

    Sebelumnya, Ganjar menghadiri undangan Kuliah Kebangsaan bertema “Hendak ke Mana Indonesia Kita? Gagasan, Pengalaman, dan Rancangan Para Pemimpin Masa Depan” di FISIP Universitas Indonesia, Depok.

    Dalam kesempatan itu, Ganjar bicara soal gagasan peningkatan kualitas SDM, peningkatan kualitas pelayanan publik, kesehatan mental, dan jalan menuju Indonesia Emas.

    Ganjar menyampaikan pentingnya akses kesehatan yang merata, pelayanan kesehatan mental yang lebih baik, perbaikan sistem pendidikan kedokteran, dan dukungan terhadap industri kesehatan.

    Advertisement

    Ganjar menyoroti pentingnya kesehatan mental dan pendampingan dalam bidang ini, karena ia merasa bahwa isu kesehatan mental masih sering diabaikan oleh banyak pihak.

    Selain itu, Ganjar mengatakan untuk menghadapi bonus demografi, Indonesia perlu melakukan transformasi dalam enam pilar strategis. Mencakup pangan, penegakan hukum, lingkungan, energi, digital, pendidikan, dan keterampilan.

    Baca Berita IndoJurnal di Google News

    Trending